Kata Mutiara islam

Ilmu itu lebih baik daripada harta. Ilmu menjaga engkau dan engkau menjaga harta. Ilmu itu penghukum (hakim) dan harta terhukum. Harta itu kurang apabila dibelanjakan tapi ilmu bertambah bila dibelanjakan. “Saidina Ali bin Abi Talib” Kecantikan bukan terletak pada pakaian yang dipakai tetapi ia bergantung kepada keelokan akhlak dan buIlmu itu lebih baik daripada harta. Ilmu menjaga engkau dan engkau menjaga harta. Ilmu itu penghukum (hakim) dan harta terhukum. Harta itu kurang apabila dibelanjakan tapi ilmu bertambah bila dibelanjakan. “Saidina Ali bin Abi Talib” Kecantikan bukan terletak pada pakaian yang dipakai tetapi ia bergantung kepada keelokan akhlak dan budi pekerti. di pekerti. Lanjutkan membaca

HURUF KAPITAL ATAU HURUF BESAR

A. Huruf Kapital atau Huruf Besar
1. Huruf kapital atau huruf besar dipakai sebagai huruf pertama kata pada awal kalimat.
Misalnya:
Dia mengantuk.
Apa maksudnya?
Kita harus bekerja keras.
Pekerjaan itu belum selesai.
2. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama petikan langsung.
Misalnya:
Adik bertanya, “Kapan kita pulang?”
Bapak menasihatkan, “Berhati-hatilah, Nak!”
“Kemarin engkau terlambat,” katanya.
“Besok pagi,” kata Ibu, “dia akan berangkat”. Lanjutkan membaca

Cara Ampuh Membentuk Keyakinan Sukses

keyakinan adalah perasaan yg mengandung kepastian akan suatu hal.
Nah, keyakinan kita bisa ini dibentuk oleh tiga hal yg berperan sebagai referensi:

  1. Pengalaman pendukung; entah kejadian tertentu atau perkataan orang
  2. Afirmasi pribadi; apa2 yg kita katakan dg lantang pada diri sendiri
  3. Imajinasi; karena otak kita tidak bisa membedakan antara realita dan imajinasi.

Yang mana semua itu harus dilakukan dengan sering (repetitif) dan menimbulkan kesan mendalam secara emosi.

Untuk pemetaforaan, kita bayangkan saja keyakinan itu adalah sebuah meja dengan kaki sebagai referensi. Untuk membentuk keyakinan yg kuat, artinya kaki mejanya harus banyak dan juga masing2nya harus kokoh.

Kita contohkan saja seorang mahasiswa bermaksud untuk membentuk keyakinan bahwa dirinya bisa menjadi mahasiswa berprestasi (mawapres). Untuk membentuk keyakinan ini, maka dia membutuhkan yang pertama afirmasi dari dirinya sendiri; dengan semisal mengatakan di setiap pagi dan menjelang tidur di depan cermin, “Mirna, kamu tu pantes jadi mawapres. Kamu rajin, pintar dan mustinya bisa jadi mawapres”. Tidak hanya itu, yang kedua dia juga membayangkan dirinya sudah menjadi mawapres dan juga melakukan dg lancar apa2 yg dibutuhkan untuk menjadi mawapres. Gambaran itu tidak berupa gambar diam, melainkan berupa film penuh warna, suara dan rasa. Baik afirmasi maupun imajinasi yg dilakukannya itu dia olah sedemikian rupa sehingga itu semua bisa berkesan secara emosi. Misal untuk afirmasi: dalam hal isi pesan, pilihan kata, termasuk pada bagaimana dia mengatakan.

Itu artinya dia sudah punya minimal dua kaki meja pendukung. Tiap afirmasi adalah satu kaki meja. Demikian juga, tiap imajinasi adalah satu kaki meja. Sehingga ragam dan kuantitas afirmasi serta imajinasi amatlah penting di sini.

Dan akan lebih kuat lagi bila si Mirna mendapatkan kaki mejanya dari orang lain. Yakni ketika orang tuanya mengatakan, “Mirna, kamu ini kan anak Mama yg pinter. Kamu ini pasti bisa deh jadi mawapres”, atau temannya berkata, “Mirna, kamu nggak ikut mawapres ta. Kamu la’ pinter se. Kamu pasti bisa” atau ada teman jauhnya yg berkata, “Lho, kamu ini bukan mawapres to. Ealah. Ta’kirain kamu ini mawapres. Habis kamu pinter banget sih, dan emg pantes klo jadi mawapres.”

Semua itu membentuk kaki meja, dan semua itu membuat keyakinan si Mirna menjadi kokoh.

Nah, terkait kekokohan keyakinan ini, maka sebenarnya ada tiga tingkat (kepastian + intensitas emosi) akan sesuatu:

A. Anggapan

Yakni ketika Mirna masih sekedar berceletuk dalam dirinya, “Karena aku ini rajin dan udah sering punya prestasi, mungkin aku ini bisa ya jadi mawapres”. Memang sudah mencenderungkan pada sesuatu, tapi karena kaki mejanya belum cukup kuat, sehingga dia masih bisa dg mudah digoyahkan.

B. Keyakinan

Yakni ketika Mirna sudah memiliki referensi yg dibangun atas intensitas emosi yg kuat. Misal dukungan orang tuanya ternyata amat membekas dalam dirinya; jarang2 dia dipuji dan didukung, semisal.

C. Pendirian

Yakni ketika Mirna sudah memiliki sekian banyak kaki meja yg semuanya membentuk intensitas emosi yg amat sangat dalam dirinya. Kita bahkan bisa menyejajarkan tingkatan ‘Pendirian’ ini dg ‘Fanatisme’; amat sangat susah untuk menggoyangnya.

Nah, masalahnya, seringkali keyakinan ini terbentuk dengan sendirinya tanpa kita sadari. Semisal dulu pernah waktu SMP pernah punya pengalaman ndak sukses berat ketika ngomong di depan kelas. Itu melahirkan anggapan, “Aku ini emg ndak jago ngomong di depan orang banyak”. Ketika umur bertambah, tidak ada pengalaman yg menggoyang anggapan itu, malah kemudian tambah diperparah; waktu kuliah pernah juga tampil buruk dan memalukan di depan umum. Karena intensitas emosi yg dalam pada waktu mengalami, yg awalnya anggapan, lantas jadi keyakinan. Apalagi kaki-kaki dari meja keyakinan kontraproduktif juga belum dirobohkan.

Sehingga sebelum kita mengupayakan bagaimana cara membuat diri jadi lebih pede, maka yg perlu dilakukan sebelumnya adl membuat diri tidak terjerumus atau disabotase oleh karena keyakinan kontra-produktif. Karena tidaklah mungkin kita bisa mencapai sesuatu jika kita masih berkonflik dg diri sendiri.

Semisal Anda punya target untuk jadi orang kaya yg punya mobil Ferrari.Tidaklah mungkin Anda bisa mencapainya ketika Anda masih punya keyakinan (atau anggapan yg dibiarkan):Bahwa jadi orang kaya dan punya Ferrari itu lebih dekat dg kesombongan.Bahwa untuk jadi orang kaya dan punya Ferrari itu akan membuat Anda lebih dekat dg kriminal seperti kecurangan dan kejahatan. Mungkin gara2 Anda melihat terlalu banyak berita di koran dan televisi ttg orang2 kaya yg masuk penjara. Pun juga ketika Anda melihat bagaimana teman2 Anda berbisnis. Sampai2 Anda berkeyakinan bahwa ndak mungkin orang jadi kaya kecuali dia pernah berbuat curang.

Bahwa jadi orang kaya tu hisabnya di akhirat lama, dan berpotensi lebih besar untuk masuk neraka.Bahwa Anda tidak cukup pantas sebenarnya jadi orang kaya.

Dengan keyakinan kontra-produktif seperti itu, maka fenomena The Law of Attraction dan sunnatullah-Nya Tuhan bagi orang2 yg mencari sukses pasti tak akan hadir dengan lancar.

Atas pencapaian yg Anda inginkan, jangan lupa untuk membentuk minimal tiga keyakinan mendasar berikut:

1. It’s POSSIBLE to achieve them

Bahwa target Anda itu memang bisa diraih.Bahwa jadi mawapres itu mungkin, bahwa kuliah sambil kerja itu mungkin, bahwa dapet penghasilan 7 juta per bulan pasca lulus itu mungkin. Meskipun tentu saja “common sense” tetap berlaku. Dalam hal ini saya ndak sepakat dg apa kata Rhonda Brynes; bahwa the Universe tidak membedakan apakah Anda mau mendapatkan satu dollar atau sejuta dollar. Itu akan sama2 mudahnya dan sama2 cepatnya. Tidak, masih ada tabiat sunnatullah yg kita ikuti.

  1. That YOU DESERVE to achieve them

Bahwa Anda ini memang pantas untuk meraihnya.Bahwa Anda ini pantas kok jadi orang sholeh, bahwa Anda ini pantas kok jadi orang kaya.

  1. You ARE ABLE to achieve them

Bahwa Anda ini MAMPU dan BISA meraihnya. Semua dg perkenan Tuhan.

Ingat, bahwa ketika kita meyakini sesuatu; bahwa kita bisa khatam Al Qur’an semisal, maka kita tidak harus sudah menemukan bagaimana caranya. Itu sudah jadi urusan yg berbeda. Pengetahuan kita tentang bagaimana cara meraih sesuatu bukanlah merupakan syarat untuk membentuk keyakinan bahwa kita BISA meraih sesuatu itu.

Dan akhirnya, berhati-hati dengan istilah InsyaALLAH. Jika Anda menganggap bahwa yg namanya insyaAllah itu adalah “kemungkinan, bisa jadi, kayak2nya atau semacamnya”, maka Anda tidak akan bisa membentuk keyakinan sukses. Gara2 sering menggunakan InsyaAllah dalam konteks yg kurang tepat.

“Gimana,nanti bisa dateng rapat kan?” “InsyaAllah

“Gimana, besok kerjaannya bisa rampung, nggak?” “InsyaAllah”

Makna InsyaAllah harus diletakkan pada maksud yg sesungguhnya. Bahwa itu merupakan kepastian atau keyakinan, namun kita sadar, bahwa segala yg pasti hanya bisa ada dengan perkenan Tuhan Yang Maha Berkuasa.

Membaca dan Menulis

MEMBACA DAN MENULIS, SEBUAH KUNCI PERADABAN


Membaca dan menulis bagaikan sayur dan garam. Satu melengakapi yang lain. Tanpa membaca ide menulis sulit diwujudkan. Dan memang aktifitas tersebut pada dasarnya merupakan salah satu pilihan berkreatifitas yang cukup menantang dalam rangka aktualisasi diri bagi mereka yang bergelut dengan dunia pengetahuan dan intelektualitas. Termasuk di dalamnya mahasiswa IAIN sunan ampel, yang sejak awal sejarahnya memang memfokuskan diri pada kajian keislaman.
Tidak dapat dipungkiri bahwa karater anak didik sampai kepada karater mahasiswa di Perguruan Tinggi, mereka masih terperangkap ke dalam budaya lisan dan budaya tulisan terasa sebagai beban. Anak didik dan mahasiswa yang cendrung terperangkap dengan budaya lisan- dimana sepanjang hari aktivitas mereka hanya mengobrol, bercanda dan berdebat kusir- cendrung menjadi orang dengan fikiran dangkal dan mengambang (floating thinking), sementara mereka yang membiasakan diri dengan budaya tulisan tentu akan lahir menjadi manusia dengan pola berfikir kritis dan analitis.
Kami menggunakan (lebih tepat: menggabungkan) dua kegiatan, yaitu membaca dan menulis, karena apabila dua kegiatan ini digabungkan, efeknya akan lebih dahsyat ketimbang dua kegiatan tersebut dilakukan secara terpisah atau sendiri-sendiri. Dalam istilah kami, penggabungan dua kegiatan membaca dan menulis tersebut kami sebut sebagai “mengikat makna”: membaca memerlukan menulis (mengikat) dan menulis memerlukan membaca.
Kemudian, slogan kami adalah ingin “mengubah kebisaan menjadi kecintaan membaca dan menulis”. Slogan ini kami sandarkan pada ucapan sahabat ali bin abi tholib bahwa “ilmu tanpa ditulis laksana binatang yang tidak diikat”

Dalam pandangan penulis, membaca merupakan salah satu media yang paling efektif untuk melihat cakrawala dunia secara obyektif, mandiri, dan kreatif. Dengan membaca, kita akan banyak memperoleh ilmu pengetahuan (al ‘ilm), dan pengalaman serta cakrawala berpikir. Bahkan dengan membaca, kita akan menjadi seorang yang kreatif, kritis, dan bijak, atau sekurang-kurangnya kita bias hijrah dari orang yang tidak tahu menjadi orang yang mengetahui. Namun, tidak banyak orang yang memanfaatkan kesempatan yang dimilikinya, misalnya waktu luang untuk membaca alam-sosial, buku-buku, dan sebagainya.
Selain itu, bahwa untuk kita bisa mengaktualisasikan kekayaan intelektualitas kita yang diperoleh dari membaca-ke dalam realitas pada berbagai tingkat masyarakat dan peradaban, sehingga akan menghasilkan infrastrukutr yang integral bagi penyebaran ilmu pengetahuan tersebut, maka menulis menjadi kebutuuhan bagi masyarakat ilmu pengetahuan (knowledge society). Bahkan, menulis merupakan sebuah ketrampilan yang dapat digunakan dengan cara yang sangat menguntungkan, baik secara spiritual maupun untuk tujuan komersil.

Dengan demikian, penulis memandang sebagai suatu kewajiban moral bagi kita untuk senantiasa memunculkan minat, motivasi, dan meningkatkan kemauan pada masyarakat untuk selalu membaca dan menulis. Sedangkan kewajiban selanjutnya adalah supaya berusaha untuk menghadirkan masyarakat gemar membaca (reading society) dan masyarakat gemar menulis (writing society) yang dibutuhkan masyarakat bangsa ini.
Kehadiran reading society dan writing society di tengah-tengah masyarakat bangsa ini, tentunya kita harapkan, meminjam istilah H.A.R. Tilaar, akan melahirkan suatu masyarakat belajar learning society). Suatu masyarakat belajar adalah masyarakat yang terus menerus memberikan arti kepada dunia. Arti tersebut diperolehnya melalui membaca dan menulis.

Membaca dan menulis merupakan salah satu kebutuhan pokok dari suatu masyarakat ilmu pengetahuan atau masyarakat modern. Artinya suatu masyarakat modern tidak akan berkembang tanpa ilmu pengetahuan dan tanpa memiliki ilmu pengetahuan. Tak mungkin suatu masyarakat ilmu pengetahuan tanpa ada bahan bacaan. Dan, tidak mungkin bahan bacaan akan ada tanpa sebuah tulisan. Tanpa membaca dan menulis, masyarakat ilmu pengetahuan akan hidup dalam kehampaan. Bahkan, kehampaan terhadap ilmu pengetahuan merupakan suatu hambatan yang sangat besar di dalam pengembangan diri seseorang di dalam suatu masyarakat ilmu pengetahuan. Oleh sebab itu, dapat kita mengerti mengapa membaca dan menulis telah merupakan kebutuhkan pokok manusia dalam suatu masyarakat ilmu pengetahuan.

Al Qur’an sebagai sebagai kitab umat Islam yang tidak memiliki keraguan di dalamnya, yang menjadi petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa, secara tersirat memberikan penjelasan betapa pentingnya arti membaca dan menulis bagi masyarakat ilmu pengetahuan. Firman Allah Swt. dalam QS. Al ‘Alaq ayat 1-5, telah memberikan gambaran betapa pentingnya membaca dan menulis bagi masyarakat ilmu pengetahuan, bahwa Allah Swt. mengajarakan pada manusia apa yang tidak diketahuinya melalui perantaraan iqro dan qalam, yaitu media baca dan tulis.
Firman Allah dalam QS. Al ‘Alaq tersebut menginginkan kaum muslimin menjadi “masyarakat buku” dalam pengertian yang sebenarnya. Membaca (iqro), bukan hanya membaca Al Qur’an, harus menjadi salah satu kebutuhan manusia di sela-sela kesibukan atau waktu luangnya.
Dengan demikian, hubungan antara membaca (iqro) dan Al Qur’an sangatlah penting, hal ini merupakan konsep bahwa mencari ilmu pengetahuan merupakan bentuk ibadah, bahwa ‘ilm dan ibadah bagaikan dua sisi mata uang, tak terpisahkan. Selain membaca, menulis juga merupakan media transformative yang efektif dalam upayanya untuk menyebarluaskan ilmu pengetahuan yang diperoleh melalui membaca.

Dalam sejarah Islam, pada abad pertama Islam, tradisi lisan lebih mendominasi dan menjadi alat utama untuk menyebarluaskan pengetahuan (informasi). Tetapi segera menjadi jelas bahwa hafalan tidak dapat diandalkan sepenuhnya, dan bentuk tulisan mulai dikenal di kalangan pencari pengetahuan.
Baca tulis merupakan pengetahuan distributive, yang bukan hanya monopoli individu, kelas, kelompok, golongan, atau jenis kelamin tertentu, bukan hanya kewajiban sedikit orang yang lantas membebaskan kewajiban sebagian besar anggota masyarakat, baca tulis tidak hanya terbatas pada bidang penyelidikan atau disiplin tertentu, namun mencakup seluruh dimensi kesadaran manusia dan semua fenomena alam.
Di dalam membicarakan mengenai usaha menggalakan gemar membaca dan menulis tentunya diasumsikan bahwa buku harus ada dan buku harus di baca, menulis butuh ketrampilan dan ketrampilan menulis harus ditumbuhkan.


Jadi Budaya baca-tulis sebenarnya sudah ada sejak awal islam, dalam sejarah tercatat bahwa kejayaan islam pernah teraih melalui budaya baca-tulis. Bahkan Nabi Muhammad SAW, mendapatkan wahyu pertama yang berbias perintah untuk membaca (iqro’) dan menulis (‘allam bi al-qolam). Wahbah Zuhaili juga menggambarkan bahwa nilai normatif yang ada pada wahyu pertama ini, lebih mengajak kepada manusia untuk memahami urgensi membaca dan menulis. Melalui wahyu pertama, Tuhan memberikan mukjizat kepada Nabi yang dikenal buta huruf, hal ini sebagai pertanda bahwa Tuhan menganugerahkan kepada manusia ‘akal’ yang menjadikan manusia lebih bernilai dibanding makhluk-Nya yang lain.
Perintah baca (iqra’) kepada orang yang buta huruf seperti Muhammad tidak dimaksudkan sebagai bentuk penghinaan atau merendahkan. Tapi, justru hal ini menggambarkan bahwa Tuhan mengantarkan manusia dari dunia ‘gelap’ menuju dunia ‘cerah’ melalui budaya membaca dan menulis.
Dalam wahyu pertama itu, Tuhan menyebutkan kata iqra’ (baca) pada awal surat, kemudian dikaitkan dengan kalimat selanjutnya bismi rabbika al-ladzî khalaq (dengan menyebut nama Tuhanmu yang telah menciptakan). Kemudian Tuhan menyandingkan kata iqra’ (baca) dengan kata ‘allama bi al-qalam (yang mengajari dengan qalam [menulis]). Dalam pandangan Wahbah, sandingan ini memiliki kekuatan yang sangat penting bagi manusia, bahwa Tuhan, selain memerintah untuk membaca, juga memerintah untuk menulis.
Membaca dan menulis adalah dua kegiatan yang saling berkaitan satu sama lainnya. Hal tersebut di atas menunjukkan bahwa Islam sejak awal sudah menyerukan kepada manusia untuk membaca dan menulis, sebab wahyu Tuhan pun tidak bisa diterima tanpa dibaca terlebih dahulu, dan ia tak akan bisa dinikmati oleh generasi selanjutnya jika tidak ada dokumentasi dalam bentuk tulisan.
Al-Qurthûbî dalam kitabnya al-Jâmi’ li Ahkâmi al-Qur’ân mengungkapkan, pada awalnya orang Arab terkenal dengan sikapnya yang kurang santun (brengsek); berwawasan sempit, Qurtûbi kemudian melanjutkan bahwa, wahyu Tuhan yang pertama (surat al-‘Alaq) adalah mukjizat bagi Muhammad; yakni sebagai media untuk mengangkat Muhammad dari lembah kebodohan menuju lembah cahaya.


Membaca dan menulis adalah media untuk mengantarkan manusia menuju perbaikan. Maka, tidak berlebihan jika Qotâdah, seorang ulama salaf menyatakan: “Menulis adalah nikmat termahal yang diberikan oleh Allah, ia juga sebagai perantara untuk memahami sesuatu. Tanpanya, agama tidak akan berdiri, kehidupan menjadi tidak terarah…” (Tafsîr al-Qurthûbî, 2002). Dari uraian di atas cukup jelas, bahwa ajaran islam menumbuhkan niat mencari pengetahuan melalui baca-tulis sebagai kewajiban agama, menurut definisi, untuk menjadi muslim berarti harus memahami secara mendalam pewarisan, perbuatan, prosesi dan penyebarluasan pengetahuan. Lebih dari itu konsep baca tulis tidak terbatas dan elitis.
Jika semangat mengajak membaca dan menulis sudah ada sejak awal datangnya Islam, dan mempunyai posisi yang sangat prinsipil dalam perkembangan Islam, maka, kebudayaan baca-tulis di Indonesia –yang notebene mayoritas Islam– setidaknya bisa diwujudkan dalam wajahnya yang baru. Saat ini, budaya tulis-baca sudah mulai semarak digiatkan oleh para pecinta buku. Banyaknya perlombaan menulis yang diadakan oleh kampus-kampus, instansi swasta, dan pemerintah menjadi semacam daya tarik tersendiri dalam budaya baca-tulis.


Dalam berbagai kesempatan, kita sering menemukan banyak orang yang membicarakan tentang pendidikan. Membandingkan sistem pendidikan di Indonesia dengan negara-negara tetangga. Kemudian memposisikan Indonesia sebagai negara yang terbelakang dalam pendidikan. Hal ini tidak hanya sekedar wacana, tapi sudah menjadi hasil analisis oleh lembaga pendidikan nasional dan internasional.
Kejadian di atas adalah gambaran umum keadaan pendidikan di Indonesia. Jika kita simpulkan wacana tentang pendidikan di Indonesia; tertinggal, sarana yang belum memadai, bangunan fisik yang masih perlu perbaikan, dan lain sebagainya.
Banyak faktor yang menyebabkan pendidikan di Indonesia menjadi terbelakang, dalam tulisan ini akan disinggung salah satu di antaranya. Dalam banyak momentum sering dibicarakan bahwa, kelemahan yang semakin akut dalam pendidikan di Indonesia disebabkan –salah satunya– oleh kurangnya kesadaran membaca dan menulis dalam masyarakat. Bahkan, hal ini sempat menjadi bahan selorokan di Jepang, bahwa untuk membedakan orang Jepang dan orang Indonesia di sana sangatlah mudah, cukup dengan melihat apakah dia membaca buku ketika menunggu mobil atau justru mengobrol. Tentu dengan asumsi bahwa yang mengobrol adalah orang Indonesia.


Banyak penggiat-penggiat pendidikan yang juga berasumsi bahwa kelemahan pendidikan di Indonesia disebabkan oleh kurangnya kesadaran membaca dan menulis. Sebut saja misalnya, Hernowo, penulis buku “Mengikat Makna” ini mengungkapkan perlunya paradigma baru dalam membaca dan menulis untuk kalangan akademisi di kampus.
Dalam artikelnya “Brain Based Writing” (Pikiran Rakyat, 29 Januari 2005) Hernowo beranggapan, ada kemungkinan, selama ini kegiatan membaca dan menulis sudah kadung menjadi beban (bagi pendidik sekaligus yang dididik). Maka, untuk mengusir beban tersebut, perlu ada perubahan cara berpikir para akademisi di kampus tentang kegiatan membaca dan menulis.
Dalam berbagai disiplin ilmu, dokumentasi dalam bentuk tulisan; makalah, artikel, essay, adalah suatu kegiatan yang harus terus berjalan, meskipun dalam praktek, masih banyak akademisi yang tidak yakin dengan kemampuannya, dan akhirnya mengkopi tulisan orang lain. Ini juga bisa diyakini sebagai salah satu gejala kekurangsadaran dalam menulis. Dalam tataran agama Islam, kita banyak menemukan buku-buku dalam berbagai disiplin ilmu yang ditulis oleh orang Islam terdahulu, katakanlah di Indonesia adalah Imam Nawawi Banten dimana sampai sekarang karya-karyanya masih populer di timur tengah dan Indonesia khususnya masyarakat pesantren.

METODE KAJIAN ISLAM

Metode-metode yang digunakan untuk memahami Islam itu suatu saat mungkin dipandang tidak cukup lagi, sehingga diperlukan pendekatan baru yang harus terus digali oleh para pembaharu. Diantara metodologi-metodologi hasil galian para pembaharu adalah metodologi Tafsir dan Studi Al-Qur’an, metodologi Ulumul Hadist, metodologi Filsafat dan Teologi (Kalam), metodologi Tasawuf dan Mistis Islam. Metodogi inilah yang akan diulas dan dikaji secara mendalam dalam makalah ini dengan tujuan lebih mengenal tentang Metodologi memahami Islam I.

download METODE KAJIAN ISLAM selengkapnya disini

Imam Al-Ghazali

Sosok Al-Ghazali adalah sosok sejuta wajah. Ia berhasil menguasai berbagai disiplin ilmu secara mendalam pada saat yang bersamaan. Suatu prestasi tersendiri. Penulis makalah ini mencoba menelaah metodologi reformasi yang dibawakan oleh Al-Ghazali dengan analisa obyektif dan menyertakan beberapa kelemahannya.

Kemunculan Imam Al-Ghazali dalam pertarungan pemikiran di dunia Islam boleh dikatakan kontroversial, di mana sekian banyak pemikir memuja beliau, namun tak kurang pula yang mengkritik dan mengecamnya. Al-Ghazali adalah lautan yang terbentang luas, Al-Ghazali bagaikan Al-Syafi’i kedua, Hujjatul Islam, dan maha guru dari para guru.

download Imam Al-Ghazali Sebuah Telaah tentang Metodologi Reformasi selengkapnya disini

Tinjauan Psikologi Mengenai Jiwa Dalam Perspektif Islam

Dalam psikologi terdapat banyak sekali metode-metode namun penggunaan untuk sesuatu metode yang bagaimana baiknya pun pasti tidak dapat menghasilkan kebenaran yang mutlak. Sebab tiap-tiap metode punya kelemahan-kelemahan disamping kebaikan-kebaikannya. Ini dimaksudkan agar kelemahan-kelemahan yang satu dapat ditutup oleh kesempurnaan metode yang lain.

download Tinjauan Psikologi Mengenai Jiwa Dalam Perspektif Islam selengkapnya disini