Posted by: dedenwahyudi on: 7 Mei 2009
FILSAFAT EKSISTENSIALISME DAN
FILSAFAT NEOTOMEISME
A. Filsafat Eksistensialisme
Tak ada aliran filsafat yang sekarang ini menjadi buah mulut orang seperti filsafat eksistensi atau eksistensialisme.
Amat sukar mengatakan apa eksistensialisme itu, karena di dalamnya terkandung beberapa aliran yang sungguh-sungguh tidak sama. pengaruh yang mengenai aliran ini bermacam-macam juga.
- Pengertian Filsafat Eksistensialisme
Eksistensialisme tidak membahas esensi manusia secara abstrak, melainkan secara spesifik meneliti kenyataan kongkret manusia sebagaimana manusia itu sendiri berada dalam dunianya. Eksistensialisme tidak mencari esensi/substansi yang ada di balik penampakan manusia, melainkan hendak mengungkap eksistensi manusia sebagaimana yang dialami oleh manusia itu sendiri. Esensi atau substansi mengacu pada sesuatu yang umum, abstrak, statis, sehingga menafikkan sesuatu yang kongkret, individual dan dinamis. Sebaliknya eksistensi justru mengacu pada sesuatu yang kongkret, individual dan dinamis.
Istilah eksistensi berasal dari kata exixtere (eks = keluar, sistere = ada atau berada). Dengan demikian, eksistensi memiliki arti sebagai “sesuatu yang sanggup keluar dari keberadaannya” atau “sesuatu yang melampaui dirinya sendiri”. Dalam kenyataan hidup sehari-hari tidak ada sesuatu pun yang mempunyai ciri atau karakter existere, selain manusia. hanya manusia yang bereksistensi. Hanya manusia yang sanggup keluar dari dirinya, melampaui keterbatasan biologis dan lingkungan fisiknya, berusaha untuk tidak terkungkung oleh segala keterbatasan yang dimilikinya. Oleh sebab itu para eksistensialis menyebut manusia sebagai suatu proses, “menjadi gerak yang aktif dan dinamis.
Ada beberapa tema kehidupan yang coba diungkap oleh para eksistensialis. Menurut mereka tema-tema tersebut telah dialami oleh manusia dan mendasari perilaku manusia. Tema-tema tersebut diantaranya adalah kebebasan, kecemasan, kematian, kehidupan yang otentik, ketiadaan, dan lain sebagainya. Terutama masalah kebebasan dan kehidupan yang otentik oleh eksistensialisme dianggap sebagai dua masalah yang sangat mendasar dalam kehidupan manusia. Manusia diyakini sebagai makhluk yang bebas dan kebebasan itu adalah modal dasar untuk hidup sebagai individu yang otentik dan bertanggung jawab.[1]
Ada juga yang berpendapat eksistensi berarti keberadaan, akan tetapi di dalam filsafat eksistensialisme istilah eksistensi memiliki arti tersendiri. Tampaknya di dalam filsafat eksistensialisme istilah eksistensi memiliki arti cara manusia di dalam dunia, dan hal ini berada dengan cara berada benda-benda, sebab benda-benda tidak sadar akan keberadaanya sebagai sesuatu yang memiliki hubungan dengan yang lain, dan berada di samping yang lain. Secara lengkap eksistensi memiliki hubungan dengan yang lain dan berada di samping yang lain.
Secara lengkap eksistensi memiliki makna bahwa manusia berdiri sebagai dirinya dengan keluar dari diri sendiri maksudnya ialah manusia sadar bahwa dirinya ada. Dalam pemikiran ini jelas bahwa manusia dapat memastikan diri bahwa dirinya ada.
Dalam keterangan yang amat sederhana ini akan kami majukan sifat-sifat umum bagi penganut-penganut yang dinamai orang eksistensialisme itu:
- Orang menyuguhkan dirinya (existere) dalam kesungguhan tertentu.
- Orang harus berhubungan dengan dunia.
- Orang merupakan kesatuan sebelum ada perpisahan antara jiwa dan badan.
- Orang berhubungan dengan ada.
Walaupun dalam sifat-sifat yang umum di atas itu ternyata bahwa manusia (orang) terdapat pada pusat pemikiran eksistensialisme, akan tetapi jangan kira bahwa eksistensialisme ini filsafat manusia (antropologia) bukan yang menjadi tujuannya ialah mengerti akan realitas seluruhnya, untuk menyadari apakah sebenarnya mengerti itu, maka orang harus mempunyai pengetahuan tentang manusia yang tahu itu.[2]
Yang dianggap menjadi bapak eksistensialisme ialah seorang Denmark bernama Soren Kierkegaard (1813-1855). Ia bukan seorang ahli filsafat akan tetapi teolog. Bukan pula maksudnya membuat sistem filsafat, ia malahan benci akan sistem pada umumnya, karena sistem itu mengurangi keseluruhan realitas. Dalam buku-bukunya dipergunakan untuk pertama kalinya kata eksistensi dalam arti lain dari yang sudah lazim. Dalam filsafat Scholastik misalnya, kata eksistensi ini sekali-kali tidak asing. Istilah ini dipakai untuk membedakan daripada essensi. Dalam tingkat macam atau species adalah eksistensi yang menjadi prinsip kesungguhan, adapun yang merupakan prinsip kemungkinan belaka; dalam tingkatan macam itu ialah essensinya. Manusia itu manusia karena essensinya, adapun ia sungguh-sungguh manusia karena eksistensinya. Jadi lain benarlah arti eksistensi Scholastik dari arti eksistensi dalam filsafat eksistensi.
Bagi Keierkegaard eksistensi berarti: kepenuhan ada, dalam mana individu karena persetujuannya dan kemauannya yang merdeka, yaitu karena sikapnya terhadap manusia dan barang lain, menjadikan dirinya subyek yang kongkrit yang ada pada tiap-tiap saat. Ia berpendapat demikian, karena menurut dia kebenaran itu tidaklah terdapat pada suatu sistem yang umum melainkan ada yang kongkrit, dalam eksistensi yang individual. Maka menurut Kierkegaard dalam eksistensi kita (manusia) itu ternyatalah, bahwa kita itu merasa bersalah (berdosa) terhadap Tuhan. Eksistensi manusia ialah berdosa (ada yang mempunyai dosa).
Hanya kepercayaan kepada Kristus dapat menolong kita mengatasi takut dan putus asa kita yang disebabkan oleh kedosaan pada kita. Tetapi untuk kepercayaan kepada Kristus itu haruslah kita berani juga bertaruh segala-galanya. Pemandangan umum dari ahli filsafat dan ahli agama ada di luar realitas kongkrit yang saya hidupi itu, jadi di luar eksistensi dan tak sanggup menolong saya sedikitpun jua.
Bagi KIERKEGAARD ada tiga stadia, (tingkatan) hidup: stadium aestetis, etis dan religious. Tiga tingkatan ini bukanlah merupakan peralihan, yang tak terasa, melainkan. agak merupakan pertentangan, sehingga orang harus meloncat dari stadium yang satu ke stadium berikutnya.. Orang yang dalam stadium aestetis ialah orang yang berpikir tanpa gerak. Ia dapat memikirkan tentang segala sesuatu, akan tetapi ia sendiri ada di luar yang dipikirkan itu: ia tidak menyelaminya, malahan tidak menyentuhnya! Orang ini berpikir secara abstrak serta memandang hal-hal dalam kemungkinannya pada pandangan bijinya semata-mata. Ia itu seorang positivis atau rasionalis. Pandangan orang yang demikian itu hanya terarahkan kepada yang di luar saja.
Orang yang ada pada tingkatan etis berpaling dari alam luaran ini serta mengarahkan perhatiannya kepada realitasnya yang ada di dalamnya sendiri. Tak ada soal (pertanyaan) lain baginya dari pada kesalahan (kedosaan)-nya sendiri. Kesungguhan dipandangnya tidaklah sebagai hal yang menyenangkan, melainkan sebagai batin sendiri yang harus diubahnya. Renungannya tidaklah mandul, melainkan berpuncak pada tindakan etis, kelakuan, tetapi tidak memperlakukan diri sendiri untuk diubah. Tetapi dalam stadium ini orang belum meninggalkan yang umum karena ia mencari ukuran tingkah laku yang umum.
Dalam stadium ketiga, yaitu stadium religious, diputuskanlah segala ikatan umum. Muncul manusia sebagai subyek yang individual dalam hubungannya dengan yang kongkrit, yaitu dengan Kristus yang kongkrit dan sungguh ada, Allah-manusia yang merupakan paradoks. Minatnya tidak lagi pada diri sendiri melainkan pada Kristus, Tuhan yang hidup sebagai manusia dalam waktu. Demikianlah manusia dalam stadium religious, ia ada dalam waktu, tetapi berhubung juga dengan keabadian. Adapun hasilnya ialah perubahan manusia karena imannya. Di situlah ia mengetahui eksistensinya.
Hal tersebut di atas itu dibentangkan oleh Kierkegaard dalam buku-bukunya yang banyak itu. Adapun yang penting dalam pada itu dan kemudian banyak diikuti orang, ialah bahwa dia menentang sistem umum dengan pengertian yang abstrak serta pernyataannya, sebab itu dianggapnya menjauhkan orang dari realitas yang kita hidupi dengan secara kongkrit. Menyelidiki filsafat hendaklah diarahkan kepada realitas itu, ke arah eksistensi kita yang individual, jadi kepada subyektivitas yang bersifat manusia itu.
Barulah tiga perempat abad kemudian dilahirkan penganut yang mahir ialah Martin Heidegger, (lahir 1889), yang menerangkan dalam analisanya, bahwa eksistensi manusia yang disebutnya Dasein itulah yang dianggap menjadi permulaan yang benar untuk ontologia atau pengetahuan (filsafat) tentang ada.
Dengan amat singkat jalan pikiran Heidegger adalah sebagai berikut: Ada nampak pada eksistensi aku dalam anasir dasar yang tertentu, yang disebutnya Existenzialen, misalnya sebagai ada di dunia. Segala sesuatu yang merupakan dunia, artinya bukan aku, aku ini lagi menyelenggarakannya. Penyelenggaraan inipun suatu Existenziaal. Dalam perhubungan yang mengandung penyelenggaraan pada hal di dunia ini aku kehilangan diri sendiri, maka aku merendahkan diri pada hal itu dan adalah aku dengan tidak sesungguhnya. Aku dapat mengatasi kerendahan karena takut, takut pada kepapaan sekarang yang berhari-harian dan amat sederhana ini, takut pada pertanyaan “darimana” yang terliputi di masa dulu, takut pada terhempas ke arah masa yang akan datang dan di situ ada aku terjun ke maut. Maka ternyatalah kepadanya, bahwa eksistensi manusia itu tidaklah lain dari pada menuju ajalnya: “Dasein” ialah “Sein zum Tode”. Di mana-mana aku alami ketiadaan dalam Dasein itu. Hal itu memberikan pada Dasein itu corak kemustahilan dan tak bertujuan. Tetapi jika aku tetap hendak bertahan diri pada Dasein itu, maka datanglah aku dari ada yang tidak sebenarnya pada ada yang sesungguhnya dan asli. Pertanyaan Eksistensi yang lebih tinggi, ialah Tuhan, yang sebetulnya memberi dasar dan arti (tujuan) pada semuanya itu, tak terjawab oleh aku yang berfilsafat ini.
Pada akhirnya Heidegger merasa mencapai metafisika yang lengkap dan sungguh-sungguh, jadi filsafat tentang ada yang sistematis. Hal ini menjauhkannya amat dari pendapat Kierkegaard. Begitu pula berlainan benar pendapatnya, karena dari eksistensi manusia tak dilihatnya jalan kepada Tuhian. sehingga filsafatnya mengandung cenderung kepaham ateisme. Tetapi bukanlah maksud kami untuk mengatakan, bahwa Heidegger itu seorang ateis.
Lain dari pada Heidegger ada pulalah seorang yang biasanya disebut juga eksistenalis, yaitu Karl Jaspers (lahir 1883). Ia lebih setia kepada Kierkegaard dalam penolakannya aturan umum apa saja, sedangkan pengertiannya tentang Tuhan tidak terang dan selalu penuh kebimbangan. Yang dipentingkan olehnya ialah, bahwa individu itu tak dapat dicapai dan dimengerti dari yang umum, melainkan haruslah diterangi dari dirinya sendiri, sebagai seorang ini dalam keadaannya yang satu dan ada dalam sejarah ini. Dalam pada itu ia selalu diganggu oleh takut dan ketiadaan yang dahsyat itu, tetapi tetaplah ia bertahan diri, karena ia memilih dengan tegas ada-nya sendiri. Maka dari itu eksistensi itu terutama geschiechtlich, artinya tiap-tiap manusia tertentukan oleh situasinya masing-masing. Untuk tiap-tiap manusia situasi itu berlainan. Tetapi tidak seorang puas oleh karena penguasaan situasi itu. Orang mulai menyelidiki, terutama jika sampai batas situasi, yaitu jika ia berhadapan dengan peperangan (perjuangan), salah, sengsara dan maut. Maka diselidikinya arti dan tujuan ada-nya itu. Penyelidikan ini terjadi dalam komunikasi. Manusia itu dalam intinya memang terhubungkan dengan yang lain. Dalam pertanyaan mengenai diri sendiri.
Demikian sampailah ia kepada metafisika. Adapun metafisikawi itu menyelidiki transendensi, yaitu hal keluar dari dirinya serta put mengatasi diri sendiri serta dunia sekelilingnya. Transendensi ini adalah, jika manusia sungguh-sungguh bereksistensi. Adapun bereksistensi atau bertransendensi itu dapat terjadi dengan bermacam-macam cara. Bertransendensi yang benar-benar ialah jika aku berpikir sambil mengatasi yang kupikirkan. Jadi budilah yang memaksa aku mengatasi yang kupikirkan itu. Maka berhadapanlah aku dengan batas-situasi, dan dalam pada itu nyatalah kepada aku, bahwa aku terhadapkan dan berhubungan denganin yang transenden itu, yaitu yang mengatasi manusia dan dunia. Maka aku dapat bertransendensi dengan berpikir dalam simbol (Chiffre). Chiffre ini hasil transendensi kemanusiaan dalam jarah: bahasa, mythos dan agama. Yang sungguh-sungguh trasendens sebenarnya tak terkatakan, boleh disebut dengan istilah: Tuhan.
Marcel Di Perancis aliran eksistensialisme inipun amat terkenal dan ada beberapa filsufnya. Antara Gabriel Marcel (lahir 1889). Tulisannya yang terkenal: Jurnal metaphysique (1927) dan Le mystere de L’Etre (1951). Ia menyelidiki inti manusia. Adapun manusia itu tidaklah mungkin ditunjuk dengan cara yang satu macam saja, karena sifatnya yang utama ialah: ia selalu membentuk dirinya dengan kemerdekaannya. Itu tidak berarti bahwa manusia itu ada seorang diri , melainkan ia ada karena ada di dunia (etre-au-monde). Dalam pada itu ia selalu dalam situasi, yang tertentukan dalam jasmaninya (incarnation). Situasi ini tidaklah tetap, melainkan mengalami pengaruh manusia yang bertindak itu. Di dunia manusia itu bertemu dengan manusia lainnya. Dalam pada itu ia mungkin bersikap dua macam. Yang lain itu merupakan obyek baginya, maka yang lain itu merupakan “dia” (lui). Mungkin juga yang lain itu merupakan yang ada bagi aku (presence), maka itu “engkau” (toi). Aku ini membentuk diri terutama dalam hubungan aku-engkau ini. Dalam hubungan ini kesetiaanlah yang menentukan segala-galanya. Jika aku percaya kepada yang lain, jika setialah aku terhadap orang lain itu, dan kepercayaan ini menciptakan diri aku itu (fdelite criatrice). Setia ini hanya mungkin karena orang merupakan bagian dari dikau yang mutlak (Tuhan). Kesetiaan yang menciptakan aku ini pada akhirnya berdasarkan atas partisipasi manusia kepada Tuhan. Adapun manusia itu bukanlah merupakan soal yang kita hadapi seperti soal lain-lain, melainkan harus disebut rahasia kepercayaan (misteri). Ada aku itu bukanlah ada yang mutlak, melainkan ada yang terhadap (berhubungan) dengan ada yang lain-lain dan terutama dengan yang lain itu. Dengan kasih cinta la dapat makin mendekati “rahasia” manusia itu.
Lebih terkenal dari Marcel ialah Paul Sartre (lahir 1905). Tidak mudahlah memutarkan pendapat dan ajarannya dalam beberapa kalimat saja. krunya yang terkenal L’etre et le neant (1943).
Jika diadakan penyelidikan secara fenomenologis maka nyatalah, demikian Satre, bahwa ada itu terdiri atas dua, yaitu ada-pada-sendirinya, (1′etre-en-soi) dan ada bagi-sendirinya, (1′etre -pour-soi). Ada-pada sendirinya ini ialah ada pada hal-hal jasmani. Ada ini tak mempunyai penentuan lebih lanjut Adapun ada-bagi-sendirinya ini ialah kesadaran. Kesadaran ini mempunyai sifat intensionalitas; ia selalu terarahkan kepada yang lain. Kesadaran itu sama saja dengan terarahkan kepada yang lain itu. Dalam pada itu ia sadar (tahu) bahwa ia itu bukan yang lain itu. Kesadaran yang demikian itu disebut Sartre peniadaan (niantisation). Di luar peniadaan itu hanya nihil: itulah yang menimbulkan nihil di dunia.
Dengan demikian tidaklah mungkin kesadaran itu bertemu dengan dirinya sendiri, sebab tak mungkinlah aku menyamak diri aku dengan aku yang sekarang ini, sebab: aku selalu menjadi aku serta meniadakan segala sesuatu yang ada pada aku. Itulah merdeka!
Kesadaran tidak mungkin disamakan dengan dirinya, tetapi juga tidak mungkin disamakan dengan kesadaran orang lain. Yang disebut cinta itu sebenarnya tidak lain daripada untuk mencapai kesamaan dengan yang lain itu dalam kesadarannya. Tetapi itu sia-sia belaka. Sebab kalau orang hendak demikian maka orang membuat orang lain sebagai suatu hal, maka tak adalah hubungan yang sebenarnya. Mungkin orang itu sendiri membuat dirinya sebagai suatu hal yang dikuasai oleh orang lain, dalam pada itu tak mungkin juga ada hubungan yang sebenarnya. Kesadaran itu memang bercenderung bersamaan dengan yang lain dan dengan diri sendiri, jadi mau menjadi suatu hal dan kesadaran sekaligus. Untuk merealisir cita-cita ini lalu diciptakannya Tuhan. Dikatakan oleh orang bahwa Tuhan ini sudah cukuplah bagi diri sendiri (jadi sebagai suatu hal) dan sebaliknya iapun kesadaran. Tetapi hal yang demikian itu mengandung kemustahilan, maka dari itu mustahillah ada Tuhan.
Maka dengan demikian filsafat Sartre akhirnya sampai kepaham ateisme. Pengaruh Sartre amat besar di Perancis, adapun penganutnya antara lain Simon De Beauvoi, Albert Camus.
Ajaran eksistensialisme yang ruwet ini rupanya malah digemari orang kebanyakan juga, sehingga bukan ahli filsafatpun suka benar menyelidiki atau membacanya. Kemana arah eksistensialisme ini sekarang belum dapat ditentukan, tetapi teranglah merupakan pendorong kuat untuk menyelidiki dan mengetahui segala sesuatu dengan cara yang sekongkrit-kongkritnya, menyelami realitas sepenuhnya.
B. Filsafat Neotomisme
Aliran Ada yang mengatakan, bahwa tomisme ini filsafat resmi Gereja Katolik, yang diharuskan bagi semua penganut agama Katolik itu. Itu tidak benar. Bagi pendidikan pegawai-pegawai Gereja Katolik memang benar tomisme itu diharuskan. Gereja Katolik memang menganjurkan menyelidiki tomisme, tetapi sekali-kali tidak mengharuskannya bagi ahli pikir Katolik. Maka dari itu tidak sedikit juga orang Katolik yang tidak menganut tomisme. Sebaliknya ada juga yang bukan Katolik tetapi menganut tomisme, misalnya Mortimer Adler dan E.L. Mascall dan Austin Farer.
Pengaruh tomisme terhadap aliran-aliran lain memang tidak sedikit. Timbulnya metafisika, etika dan ontologia sebenarnya karena pengaruh tomisme. Banyak juga tokoh tomisme yang sekarang ini berhubungan dengan lingkungan di luar tomisme.
Sekarang ini masih ada banyak sekali penganut tomisme. Aliran ini ada juga disebut scholastik. Menurut istilah zaman sekarang aliran ini disebut juga neotomisme. Dalam pada itu ada tiga jurusan atau tiga cabang dalam kesatuannya:
- Aliran pertama menganggap, bahwa ajaran Thomas sudahlah sempurna, sehingga tomisme sekarang hanya mempunyai tugas menerangkan ajaran Thomas itu. Keterangan-keterangannya haruslah sesuai dengan zamannya (modern). Seorang tokoh dari aliran ini ialah R. Garrigou-Lagrange (lahir 877).
- Cabang kedua mengatakan, bahwa hasil pikiran Thomas dalam ontologi sudahlah sempurna dan tidak dapat diubah lagi. Akan tetapi pada masa ini ada beberapa soal yang pada masa Thomas belum dipersoalkan. Sehingga neotomisme menyelidiki soal-soal itu atas dasar tomisme. Tokoh yang amat terkenal, dalam hal ini Jacques Maritain (lahir 1882). Menurut di haruslah ada penyelidikan tentang alam yang harus disesuaikan dengan ilmu alam dewasa ini. Demikian pula dalam filsafat sosial haruslah beberapa hal disesuaikan dengan keadaan dewasa ini yang pada masa Thomas memang belum ada.
- Cabang yang terbesar ialah cabang yang ketiga, yang mengatakan, bahwa filsafat Thomas dalam garis besarnya memang harus diikuti, serta filsafat itu memang amat berguna serta subur bagi dewasa ini, tetapi tidaklah filsafat Thomas itu sudah sempurna serta sudah mencapai jawab atas segala pertanyaan.
Maka dari itu mereka berpendapat, bahwa pun dalam ontologia Thomas masih perlu penyelidikan dan keterangan, sehingga mungkinlah pengertian serta pengetahuan tentang ontology makin mendalam.
Joseph Marechal (1878-1944) misalnya mengatakan bahwa tomisme hanya mungkin merupakan filsafat yang hidup, jika berhubungan dengan aliran-aliran lain dewasa ini. Dalam filsafat yang dicari ialah kebenaran, adapun kebenaran itu tercapai oleh kerjasama antara aliran yang beraneka warna. Pun Joseph Geyser berpendapat demikian. Setia kepada kebenaran itu lebih utama dari setiap kepada aliran belaka. Lapangan penyelidikan terutama pada logika, kritik (logika mayor), ontologia dan antropologia. Pengaruhnya di Jerman amat besar.
Baik di Belgia, maupun di Nederland serta Perancis, bahkan di seluruh Eropa dan Amerika ada perkembangan tomisme ini.
Walaupun ada juga bermacam-macam dalam corak, mereka mempunyai persesuaian tentang hal-hal sebagai berikut: Ada Tuhan itu dapat buktikan melalui pikiran belaka. Caranya membuktikan memang tidak sama antara satu cabang dengan cabang yang lain.
Manusia itu tujuannya yang terakhir ialah memandangi Tuhan. Hidup manusia haruslah diarahkan kesitu. Tetapi ini tidak menghilangkan aktivitas di dunia karena manusia di dunia ini mempunyai tugas tidak hanya membawa dirinya sendiri kepada Tuhan, melainkan seluruh dunia haruslah diarahkan kepada Tuhan. Aktivitas ini berupa dua macam: aktivitas teoretis, yang terselenggarakan dalam filsafat dan ilmu; aktivitas praktis yang terselenggarakan dalam seni dan bermacam-macam hidup sosial. Filsafat itu hal berpikir yang mempergunakan pengalaman. Maka dari itu lainlah filsafat dari teologia yang berdasarkan wahyu. Filsafat haruslah berhubungan dengan ilmu-ilmu positif. Filsafat. tidaklah hendak memberi hukum-hukum pada ilmu, tetapi ia malahan mempergunakan hasil karya ilmu untuk perkembangan filsafat itu sendiri. Ilmu dan filsafat tidak untuk praktek, melainkan mempunyai tujuan sendiri, yaitu mencari kebenaran tak mengingat keuntungan materiil, merupakan kemuliaan manusia di samping pengakuannya terhadap Tuhan serta kebaktiannya terhadap sesama manusia (kemanusiaan). Maka dari itu segala irrasionalisme harus ditolak. Manusia haruslah hidup menurut rasio, budinya.
Itu tidak berarti, bahwa budi dapat segala-galanya. Adalah batasnya dan budimanlah orang, yang tahu akan batas budinya itu.
Dalam perjuangan antara idealisme dan realisme, tomisme selalu memihak realisme dan harus dikatakan, bahwa tomisme membantu kemenangan realisme dewasa ini. Realisme ini menjadi pangkal ontologia. Soal terbesar dalam filsafat ialah soal ada. Maka haruslah dibedakan benar antara ada dan yang ada. Dalam renungan lebih lanjut, nyatalah bahwa ada perbedaan: ada yang umum pada semua yang ada (esse commune); dan terdapatlah ada, yang menjadi dasar dan asal segala yang ada, ada mutlak: Tuhan.
Realisme pulalah yang menjadi pangkal metode berpikir. Semua filsafat hanya dapat berpangkal pada pengalaman, tetapi dalam berpikir itu ia mengatasi (melewati) pengalaman. Dalam hal itulah ternyata susunan manusia yang berupa roh dan materia. Materialisme belaka tak mungkin menerangkan berpikir dan idealisme, dalam bentuk manapun, tak cukup juga untuk menerangkan berpikir itu.
Pada tiap-tiap dan segala tindakan manusia haruslah ada terdapat paduan jiwa dan badan, jadi adalah dualitas, akan tetap bukanlah manusia itu terdiri dari dua substansi yang berdampingan, melainkan sungguh-sungguh merupakan kesatuan. Tomisme dapat mengatasi kesulitan Descartes tetapi sekali-kali tak mau mengikuti monisme dalam bentuk apapun juga. Manu sia itu memang merupakan batas, adanya memang ada pada batas roh dan badan dan di situlah ia harus mencapai atau mempertahankan keseimbangannya.. la harus menuju keroh tetap haruslah ia sadar pula, bahwa ia itu jasmani juga![3]
DAFTAR PUSTAKA
Abidin, Zainal, 2006, Filsafat Manusia, Bandung: PT. Remaja Rosda Karya.
Poedjawiyatna, 2005, Pembimbing Ke arah Alam Filsafat, Jakarta: Rinneka Cipta.
Sudarsono, 1993, Ilmu Filsafat Suatu Pengantar, Jakarta: Rinneka Cipta.
[1] Zainal Abidin, Filsafat Manusia, (Bandung: PT. Remaja Rosda Karya, 2006), hal. 32.[2] Drs. Sudarsono, Ilmu Filsafat Suatu Pengantar, (Jakarta: Rinneka Cipta, 1993), hal. 44.
[3] Prof. Ir. Poedjawiyatna, Pembimbing Ke arah Alam Filsafat, (Jakarta: Rinneka Cipta, 2005), hal. 142.
12 September 2009 pada 12:05 am
terima kasih atas postingan yang amat berguna ini